Minggu, 11 Februari 2018

My Depression Story



(This is in Full Bahasa and Full English)



                                Setelah momen graduation, aku mengalami depresi yang agak parah. Sebenernya ini bukan kali pertama aku depresi. Ketika sekolah dasar pun pernah mengalaminya karena bully (bacaan ada di laman sebelum). Lalu, ini kembali terjadi. Kali ini bukanlah bully, tapi ada masalah yang sering dialami oleh orang berusia 20an ke atas, yakni masalah pribadi dan sosial. Pribadi... sebetulnya aku sudah bercerita di tema sebelum ini. Ketika masalah-masalah tersebut datang “aku tak merasakan apa-apa”. Ya benar saja jika saat ini baru kerasa depresinya. Yang aku rasakan sakit hingga ulu hati. Bukan alay, mungkin yang sedang mengalami hal sama tentu paham ini. Napas akan terasa sesak dan berat, fikiran tidak tenang, gelisah, suka menangis, lebih banyak menyendiri, dan selalu ingin pergi ke suatu tempat.
                                Ketika itu, tepat satu tahun yang lalu aku bertemu dengan sosok baik dan kita menjalin hubungan yang baik pula. Namun ada beberapa hal yang membuat hubungan baik ini kemudian terputuskan. Pertama karena jarak yang sangat jauh, kedua komunikasi yang sulit dan tidak dapat dipertahankan, ketiga karena kesibukan, terakhir karena perbedaan. Lalu agama yang berbeda...walau sempat ia belajar agama Islam, serasa tak mungkin jika seandainya pindah agama. Kemudian, dia dan aku menjalani kehidupan masing-masing. Dia dengan hidupnya dan aku dengan hidupku.
                                Hingga akhirnya, ku bertemu dengan orang yang bukan baru dan bukan dia, panggil saja Musim. Saat itu, Musim dan aku kembali menjalin silaturahmi yang sempat terputuskan beberapa tahun lalu, cukup lama memang, ya... tujuh tahun lalu. Mulai lagi merekatkan yang retak, namun tetap saja tak dapat terekat dengan baik. Karena mungkin perekat yang kita miliki saat itu tidak cukup kuat, dan bentuknya pun mungkin tidak sesuai sehingga sulit untuk digunakan kembali. Lalu, at the end Musim dan aku ya tetap Musim dan aku sendiri.
                                Depresi yang terjadi padaku ini, bukan hanya disebabkan masalah pribadi namun didukung oleh masalah sosial. Dua masalah yang belum sembuh itu bertambah kala lingkungan sosial ikut campur masalah pribadi. Kau pernah ditanya, “Kapan nikah?”, “punya pacar belum?”, “apa pekerjaanmu?”, “berapa gajinya?”.  Awalnya biasa bagiku...tapi semakin ke sini aku give up. Aku ingin cerita dengan orang, tapi belum ada yang mau mendengar dengan baik. Tiap kali bercerita mereka pasti bilang “it will be okay”. Kenapa nggak cerita sama orangtua dan minta solusi mereka saja, simple jawabku...aku nggak mau mereka tahu jika aku sedang mengalami depresi.
                                Dari apa yang kuceritakan, mungkin masalahku terlihat sepele. Namun, sebenarnya aku memiliki masalah lain cukup sulit  yang tentu saja tak bisa ku ceritakan di sini. Tak ada yang tahu selain aku dan Allah.  Masalah-masalah itu terus saja menghantui fikiranku tiap malam terutama di sepertiga malam. Aku kesepian dan terus mencoba menghubungi teman. Saat itu, teman-temanku banyak disibukkan oleh aktivitas masing-masing sehingga tak sempat memberikan ruang bagiku bahkan pelukan hangat sekadar memberi semangat.
                                Namun, masalah-masalah yang kumiliki lantas tak membuatku untuk lari dari kenyataan. Yah... meski terkadang menyerah. Jika malam tiba aku sesekali menengadah ke langit, “Adakah tempat bagiku bersinar?”. “Jika aku tak mampu bersinar di kehidupan ini, akankah ku bersinar di langit?”. Ku tarik napas dalam-dalam hingga dadaku terasa sakit, mereka bilang “Ini tak apa”. Meski aku tak tahu maksud “Ini tak apa”, apakah ini tak apa bagi mereka atau bagiku?
                                Aku terus meyakinkan diri sendiri bahwa ini akan segera berakhir. Aku percaya bahwa Allah maha adil. Pepatah lama mengatakan bahwa setelah hujan deras muncul pelangi. Meski kini  ku menghadapi sendirian, aku selalu yakin bahwa Allah ada di setiap langkah. Cepat atau terlambat aku akan tersenyum tenang dan melanjutkan hidup dengan baik.
                                Mungkin kalian berpikir, “kau terlihat tak apa-apa”. Ya... aku selalu berusaha menyembunyikan pedihku dihadapan teman. Sebab, jika sudah bertemu dengan teman aku lupa segalanya, termasuk masalah yang kumiliki. Sehingga aku suka berbincang, tertawa, bahkan memberi solusi jika mereka dalam masalah walau sebenernya pun aku sendiri tak mampu memberi solusi bagi masalah-masalah yang kupunya.
                                Siapapun yang sedang depresi saat ini, lari dari kenyataan bukanlah keputusan yang tepat. Tunggu sebentar atau lebih lama lagi. Tetaplah bertahan walau dunia tak menyukaimu. Yakinlah bahwa suatu hari kau akan bangga membuat dunia menyukaimu. Tak masalah jika kau sendirian, sebab Allah selalu ada untukmu. Tarik napas dalam-dalam, dan menangislah hingga dadamu terasa sakit sekali. Tak mengapa jika kau menangis, tak kan ada yang menyalahkanmu. Tetaplah semangat dan bertahan. Jika kau mampu bertahan, kau akan bangga menjadi diri sendiri yang mampu berdiri kokoh meski badai menerjang. Hiduplah lebih lama lagi...

*Tulisan ini terinspirasi dari lagu Lee Hi Breath dan kehidupan pribadi
DISCLAIMER : I wrote this when I depressed (2017)











My Depression Story

After the moment of graduation, I feel a rather severe depression. Actually this ain’t my first time of depressing. When I was in an elementary school I had ever felt it cause of bullying (the article is on previous page). Then, this happened again. This time ain’t a bully, but is a problem that people up to 20 years usually face, they are personal and social problem. Personal problem... actually I had ever told about this problem that I faced. When the problems came  “I didn’t feel anything”. So, that makes sense if I just felt the depression nowaday. I feel deeply pain in my heart. Not cheesy, maybe somebody who have the same problem could relate this. You will have heavy breath, the mind ain’t calm, restless, easy to cry, being alone more often, and always want to go somewhere places.
At that moment, been exactly a year (by the time I’m writing this) I met a good person and we had a good relation too. But, there are some things that made this good relation finally broke. First, because of the distances, second a difficulty in communication, third because of the bussiness, last because of the different. (Saya tidak bisa menerjemahkan selanjutnya karena satu hal).
Then finally, I met a person who ain’t new and ain’t him, just call him Musim. At that time, Musim and I estabilished the relationship again which had been broken several years ago, Mmm... seven years ago. Started to glue the crack, but still couldn’t get very well attached. Maybe the glue that we had is not strong enough, and the shape may not be suitable so it is difficult to reuse. Then, at the end Musim and I is Musim himself and I myself.
This depression that happened to me was not only caused by personal problems but also supported by social problems. Two problems that I haven’t recovered yet have been increased when the social environment has interfered with personal issues. You were once asked, "When will you marry?", "Have you got a boyfriend?", "What is your job?", "How much do you earn?". At first it was just so so...but by the time goes, I am giving up. I want to tell to people, but no one willing to listen well. Everytime I tell them, they always say “It will be okay”. Why don’t you tell and ask the solution to your parents?, simple answer...I don’t want my parents know I am depressing.
From what I told, my problems may seem trivial. However, in fact I have others difficult problem which I couldn’t tell here. There’s no one knows except me and Allah. Those problems always haunt me every night. I am lonely, and tried to contact my friends. At that time, my friends were busy with their activities so that they don’t have enough time for me to even giving a warm hug to make strong.
However, the problems that I had didn’t make me run away from the reality. Well ... though sometimes I’m giving up. When the night comes I look up to the sky, “Is there any place for me to shine?”. “If I can’t shine here, will I shine in the sky?”. I take a deep breath until my chest gets hurt. They (my friends) said "It's okay". Although I do not know what’s the meaning of "It's okay", is it okay for them or for me?
I kept telling myself that it will come to an end. I believe that Allah is fair. The old adage says that after heavy rain comes a rainbow. Even though I'm facing alone, I'm always convinced that Allah is always being in every step. Sooner or later I will smile calmly and get on with my life well.
Maybe you’ll think, "You look okay!". Yes ... I always try to hide my pain in front of my friends. Because, if I've met friend I forgot everything, including the problems I have. So I like to talk, laugh, and even give a solution if they are in trouble, though actually I was not able to solve my problems.
Anyone who is depressed right now, running from reality is not the right decision. Wait a minute or longer. Stay alive even if the world does not like you. Believe that one day you will be proud to make the world like you. It doesn’t matter if you're alone, because Allah is always be there for you. Take a deep breath, and cry until your chest hurts so much. It doesn’t matter if you cry, no one will blame you. Keep your spirit and survive. If you can survive, you will be proud of yourself who is able to stand firm despite the storm crashing. Live much longer...

* This is inspired by Lee Hi Breathe song and personal life
DISCLAIMER: I wrote this when I depressed (2017)

Kamis, 21 September 2017

SKRIPSI DAN CITA-CITA



HALO~
Bulan kemaren dan kemarennya aku disibukkan skripsi, bimbingan, ngelesin, nge-host, dan lain-lain, ada banyak hal sulit yang telah kulalui... Namun, ada pula kebahagiaan yang tak terduga.
Dulu, seseorang meramalkan bahwa aku tak memiliki keuntungan, jadi harus bekerja lebih keras (well, it is unecessary for me to belive in a fortune teller tho!). I also prefer to believe in a hard work than a luck... Though Bekerja lebih keras bukanlah mudah bagiku. Kenyataannya memang aku nggak bisa gercep alias gerak cepat seperti anak lain. (My friends say so, I can’t deny it~). Mahasiswi akhir sepertiku ini harus gercep untuk ngerjain skripsi, biar cepet selesai (katanya).
Well.. “Skripsi” bisa jadi musuh atau teman mahasiswa akhir. Bagiku, skripsi itu seperti teman baru (yang ternyata asyik). Kali pertama, skripsi terlihat menakutkan tapi setelah kenal lama... si-dia ini kok asyik, malah mengajakku ke-dunia yang selama ini ku impikan. Sama seperti teman baru, yang bisa saja menakutkan di awal tapi ternyata asyik atauuuu yang asyik di awal tapi .....
Anyway.. selama bimbingan aku menghadapi beberapa masalah, termasuk dosen, teman, pribadi, atau skripsi, yang ku pikir akan membunuh keinginanku. Saat-saat masalah tersebut diujung, malah ku temui berbagai hal tak terduga. Tanpa ekspektasi apapun, aku bisa mendaftarkan diri pada ujian sidang hari Kamis, 24 Agustus 2017 dan langsung mendapat pengumumannya.
Saat itu (selama pembukaan registrasi ujian sidang sampai hari penutupan), aktifitasku jadi super duper sibuk. Bukan masalah skripsi saja, ada kegiatan lain yang ikut menyibukkanku. Tetapi lantas nggak mengganggu aktivitas yang lain. Jadi, semua sudah teratur timing-nya. Dari pagi sampai sore, aku bimbingan di 2 gedung yang berbeda (kalau nggak bimbingan berarti ngedit-ngedit revisian atau ngerjain bab selanjutnya). Lalu, sampai rumah istirahat sebentar 1.5 jam dan kembali bangun untuk nge-lesi. Next, selesai nge-lesi aku nge-host dan cari makan malam. Sampainya di kamar, aku nggak langsung tidur tapi ngerjain bab 4-5 sampai hampir  subuh. (I know it’s not good, but felt like wanted to do it). Walaupun aktivitas gila kayak gini bikin aku pingsan pertama kali di Goa Kreo. (-__-)
Awalnya nggak ada ekspektasi sama sekali untuk ikut ujian sidang di bulan Agustus. Aku hanya mengerjakan “skripsi” dengan baik+serius dan bisa melakukan kegiatan lain. Prediksiku malah baru bisa ikut ujian sidang Desember atau bahkan tahun depan. Jadi kalau kau tauuuuu, dua hari sebelum ujian sidang, aku ada di Dieng untuk menjadi tour guide (karena memang dari awal nggak ada ekspektasi bisa mendaftar ujian sidang di bulan Agustus, jadi sudah dijadwal kalau hari itu harus ada di Dieng dan nggak bisa dirubah). GILA Memang..., tapi aku mencoba bersikap tenang. Karena bagaimanapun kuncinya adalah diri kita sendiri, harus bisa mengkontrol diri sendiri, artinya jangan buat diri “terbebani”.
Jadi yang ku lakukan 2 hari sebelum ujian sidang di Dieng adalah tentu menjadi tour guide, menikmati alam, menikmati pertunjukan wayang bersama mahasiswa KKN UNNES, lalu pukul 9 baru pulang ke guest house dan membuat power point presentasi ujian sidang, mempersiapkan beberapa kemungkinan pertanyaan yang akan muncul, menyiapkan jawabannya, memahami isi skripsi, dan serahkan semuanya pada Allah SWT. Aku tidur pukul 2 pagi dan bangun pukul 5 siap-siap, kemudian pergi ke beberapa tempat wisata Dieng pukul 7. Pulang ke Semarang di sore hari pukul 3, tapi tiba-tiba mobil yang ditumpangi hampir merosot. Akhirnya kami semua  keluar, supaya tidak semakin terperosot. Pak sopir pun berusaha menaikkan mobilnya ke tempat yang datar. Dan ternyata ban mobil bocor, saat itu aku mencoba tetap tenang, tidak panik. Akhirnya atas ijin Allah, mobil sudah selesai diganti ban dan kami bersiap kembali menuju Semarang pukul 4. Tibanya di Semarang pukul 8 lebih 15 menit, pukul 9 malam aku persiapkan seragam dan sepatu.
Sayangnya aku juga mengalami masalah lain, yaitu masalah teman dan pribadi. I am an introvert, which is it’s imposible for an introvert to make an enemy. Teman bagiku ya seseorang yang kutemui, dikenal dengan baik. Benar atau tidak isu itu, aku nggak terlalu perduli. But the important thing is that I want to keep in touch with friends and always be good. Lalu, masalah pribadi...saat itu, aku dekat dengan seseorang (he isn’t Indonesian, and non-believer), well aku tahu ini terlalu jauh dan I know that it was my fault. He proposed me to marry him, tapi I can’t...karena hubungan kita beda agama. Dan aku nggak mau memaksa nya buat pindah agama hanya karena ingin “menikahiku”. Finally, we broke-up while tomorrow I will have “sidang skripsi”. Aku tetap mengkontrol diri dan fokus pada hal yang lebih penting.
Esoknya, 28 Agustus 2017, aku mengikuti ujian sidang pada masing-masing dosen penguji. Selesai melakukan sidang pada dosen penguji 1, hal tak terduga pun datang. Beliau (penguji)ku menawari sejumlah jobs dan siap mengirimku ke suatu tempat. Perasaan haru dan air mata pun jatuh juga saat itu. Kemudian Allah melancarkan ujianku pada penguji 2 dan 3, tidak perlu revisi. Jadi skripsi siap sudah tertandatangani semua hanya dalam 2 hari saja.
“Setiap hujan deras pasti ada pelangi, setiap penderitaan pasti ada kebahagiaan”. Ikhlas saja dengan masalah yang ada dan jangan menjadikan masalah sebagai beban. Alhamdulillah sekarang I can get over him. Dan I communicate well with friends, thank you friends.
Next, bagaimana bisa aku mendaftarkan diri pada ujian sidang dan berhasil?? Rahasianya adalah percaya dengan kemampuan diri sendiri dan sang maha pencipta. Pertama, yakin kalau kita mampu melakukan yang terbaik. Selama ini aku sering mengeluh dan tidak yakin bisa mendaftar ujian sidang di bulan Agustus, seharusnya aku tidak merendahkan diri dan seharusnya  memposisikan diri pada posisi yang lebih baik daripada baik. Kedua, setelah percaya pada diri sendiri lalu percaya pada Allah. Percaya bahwa Allah akan membantu, percaya bahwa Ia punya mukjizat yang luar biasa, punya malaikat-malaikat yang tak pernah tidur, punya rencana yang luar biasa, dan percaya bahwa Allah memberi apa saja yang kita butuhkan.
Tambahan, based on my experience : Do everything sincerely , without any expectations for wanting tobe surprised anytime.
Berikutnya, hal yang paling sulit selama menjadi semester tua adalah langkah setelah skripsi, yoms... pemberkasan. Pemberkasan ini yang paling membutuhkan “kegercepan”. Seperti yang sudah ku katakan, aku bukanlah orang yang gercep. Jadi solusinya yaitu, mencari cara lain. Caranya adalah bermain taktik dan berfikir logis. Mana yang bisa dikerjakan, dikerjakan dulu.
Well...sekarang aku udah di tahap tanda tangan pada buku induk. Aku hanya menunggu pembagian toga, plakat, undangan dan gladi bersih tanggal 4 dan 5 Oktober. Insya Allah wisudaku adalah tanggal 7 Oktober 2017, jika umurku sampai.
Akhirnya pertanyaan “kapan wisuda?” bisa dijawab (hehe), tinggal pertanyaan “kapan kerja?” yang masih belum bisa dijawab. Sebetulnya aku sudah mengaplikasikan berkas lamaran ke beberapa perusahaan swasta dan bumn. Tapi, entahlah aku serahkan kembali pada Yang Maha Kuasa. Aku yakin rencana Allah yang paling baik buat ku.
Kalau ditanya cita-citaku apa, waktu kecil aku selalu menjawab ingin jadi dosen. Well, tapiii makin tua, makin bingung apa cita-citaku. Untuk jadi dosen, aku harus melanjutkan S2, which is butuh uang banyak, dan saat ini belum punya cukup uang untuk itu. Ditambah adikku akan melanjutkan studi S1. Yang ku pikirkan saat ini bagaimana caranya membahagiakan orang tua dan sekitar.
Selama ini orangtua ku (terutama ibu) sangat mensuport kegiatan apapun yang ku lakukan. Termasuk skripsi, ibu atau bapak bukan tipe ortu yang selalu nanyain  “kamu sampai bab mana?”, “kapan selesai bab 3?”, “kapan selesai penelitian?”, “kapan sidang?”, dll. Tapii bukan berarti mereka nggak peduli, mereka lebih ke “mempercayakan semuanya padaku”. Mereka punya mindset modern, dan aku sangat beruntung memiliki nya sebagai orangtua. Ibu dan bapak sangat terbuka dan memberikan kemerdekaan bagiku. Dari kecil, aku dibebaskan untuk memilih kegiatan apa saja yang ku suka. Aku nggak pernah melihat mereka memaksakan sesuatu padaku.
Hingga saat ini pun mereka memberi kebebasan, mau aku ingin menjadi apa, bekerja dimana, berapa gajinya, dll terserah aku. Kata mereka yang terpenting tetap jaga iman dan sholat 5 waktu.
They believe in me, so I will always do my best for them.

Jumat, 21 Juli 2017

HIDUP DALAM ANGGAPAN MASYARAKAT




Semakin kamu peduli anggapan orang mengenaimu, maka kamu tidak akan berhenti khawatir.

Itulah pendapatku mengenai hidup jika kita terlalu peduli apa anggapan orang lain terhadap diri kita. Kenyataannya, bagaimanapun, jika kita tidak hidup “seperti apa yang mereka anggap”, kita akan khawatir jika mengecewakan diri sendiri. Ketika orang menganggap kamu hebat dalam menari, tentu saja kamu akan mencari segala cara untuk mempertahankan anggapan itu. Jika tidak/ gagal, maka akan berakhir pada mengecewakan diri sendiri.

Lalu bagaimana jika anggapan mereka buruk? Pastilah kita merasa tidak nyaman dan ingin merubah anggapan buruk tersebut. Sejak SD orang-orang  menganggap aku ini aneh, nggak punya temen, dan bodoh. Anggapan itu seringkali membuatku merasa tidak nyaman. Aku selalu mencoba untuk keluar dari anggapan buruk masyarakat. Ibuk mengirim ku ke bimbingan belajar supaya bisa bersosialisasi dengan teman seusia dan meningkatkan pengetahuan, perlahan aku keluar dari anggapan buruk itu. Sayang sekali, anggapan tersebut tak berubah malah masih sama seperti dulu. Aku terus merasa khawatir karena takut jika usaha apapun yang sudah ku lakukan tidak akan memberi perubahan.

Ketika aku beranjak remaja semua berubah agak baik dari sebelumya. Sebagian orang masih menganggapku sama seperti dulu. Beberapa darinya meremehkanku. Perubahan yang lebih baik ini tidak banyak diketahui orang-orang sekeliling. Padahal aku ingin orang-orang tahu itu, karena selama ini aku merasa direndahkan. Kemudian, seiring berjalannya waktu, akhirnya perubahanku ini jadi bahan pembicaraan mulut ke mulut, hingga masyarakat beranggapan terlalu tinggi mengenaiku. Anggapan orang-orang sekitar lebih tinggi daripada keahlian asli yang ku punya. Aku kembali merasa tidak nyaman, dan timbul perasaan khawatir. Khawatir akan mengecewakan mereka dan berakhir kecewa pada diri sendiri.

Orang-orang sekitar kini menganggapku pintar, percaya diri, dan bisa diandalkan. Karena orang-orang berfikir seperti ini, mereka nggak jarang mengandalkanku. Ketakutanku adalah... ketika aku tidak bisa menjadi seperti yang mereka anggap. Perasaan seperti ini sangat tidak membuatku nyaman. Berulang kali aku menjelaskan kepada beberapa orang bahwa aku tidak seperti yang mereka anggap. Aku sama seperti orang lain, masih belajar, dan kemungkinan akan gagal seperti manusia biasa.
Ketika kegagalan itu datang, orang-orang sekitar mungkin akan heran dan bertanya-tanya. Kok bisa seperti itu, dia kan ahlinya kok bisa begitu, ini kan bidangnya dia kok bisa gitu, dia kan pinter masa gitu aja gak bisa, dll. Jika orang sekeliling kecewa, maka pasti timbul perasaan tidak nyaman, tidak enak, malu, dan juga berakhir kecewa pada diri sendiri. 

Semenjak itu, aku berfikir sampai kapan aku harus hidup di bawah anggapan orang?
Jika aku terus melakukannya, ini akan membuatku tidak nyaman. 

Lalu, kuputuskan untuk tidak peduli dengan apa yang masyarakat anggap tentangku. Aku memilih untuk tidak menunjukkan sisi hebat, dan membiarkan orang-orang beranggapan apapun.
Inilah waktunya untuk memahami diri sendiri, berhenti membuat diri tidak nyaman atau sakit hati. 
Bijak memilah mana yang baik dan buruk, melakukan semua yang baik untuk diri sendiri tanpa menyakiti atau membuat kecewa diri sendiri. Jangan biarkan orang-orang mengontrol kehidupan kita.

Kita harus sadari bahwa, semua orang diciptakan unik, dan kita di sini tidak hidup untuk apa yang orang-orang anggapkan. Semua orang memiliki takdir yang berbeda. Takdir bisa saja berubah tergantung pribadi masing-masing. Semua orang bisa berubah tergantung usaha masing-masing. Jadilah diri sendiri, percaya pada diri sendiri, buatlah hidup dan diri ini nyaman.

Jumat, 07 Juli 2017

STOP GIVING A F*CK WHAT PEOPLE THINK



          Hello blogger! It’s been a while not write any articles... so here I’m back with my new thoughts.  It’s about not to care what people think of you. Yeah, we are living with unique people. We meet and see people around us that we don’t know their real personalities. People usually scan our physical, then guessing on what they see. Let’s talk about my past, when I was in an elementary school, my skin was really dark. I used to play football, kites, and did other outdoor activities. At that moment, I didn’t know  what so called “sun-block” or "hand-cream" so, my skin seemed black. Everybody stared at me and guessed my personality through “seeing”. They said, I’m black, ugly, and stupid. In people’s opinion (at that time) a person with a black skin was strange, stupid, and ugly.
          Year by year passed, the technology is upgrading and sophisticated. There are a lot of social medias that allow people think and comment on others easily. Let’s call them facebook, twitter, snapchat, instagram, tumbler, etc.

            For the example in instagram. Me myself when uploaded a photo in instagram, I’m never give a ffck what people will comment on my photo whether it is good or bad. First, I uploaded a photo cause I like that, I don't care what people will comment on it. Second, caring on what people think or comment about you is just ruin your day. Last, caring on what people think is not healthy, it gives bad impact, such as being stress and depression.
           I have a friend in instagram (I won’t mention her name), she’s a kind of person who wants to seek an attention from people. She likes uploading cute pictures of herself. Many people follow her, some of them leave good comments and some of them leave bad comments. So, one day she made a "give away". And... guess what?? She asked her followers to leave good comments on her 6 photos, and as the feedback she’ll give 3 gifts for 3 winners (who left good comments). BUT, this girl will get mad and say will block people who leave bad comments.
          Either bad comments or good comments can affect you. That’s why I said not to care about what they think about you. I found my friend commented on my pictures said that “Oh you are cute... you are beautiful, gorgeous... you are bitch, ugly, scary, etc.” At first, I shocked. How could these people commented on my pictures easily that other people can see those comments too. So, from now on I’m never care what people think about me. I know deeper down inside my self than others. And if I care about it, I will be stress. 
          Good comments sometime make someone selfish. While bad comments make someone stress, hate her/himself, and not confident. So, stop caring what people think about you. It isn't healthy.
          Let’s think, why do you want good comments and don’t want bad comments? Is that for selfish gain??  What do you think if you want to upload your photo?? Is that because of "a good photo" or... do you want to get a “compliment” from others??
         Dude, knowing yourself is better than cares about what people think of you. Cause the one who knows you more is yourself. So, if you stop caring what others opinion about you, you will less stress, feel free, love yourself for sure, being a happy person, confident, and not being selfish. When others give you bad comments just let them go! Like you let your poops or pees out into the deep down of the toilet in your fresh morning. If you do not poop or pee, it's not good for your healthy just like if you keep caring on what other people think, it's not good for your mental health.
        Remember that it is more important if you care about yourself than if you care what random strangers think of you. And when you are uploading your products on any social medias, make sure that you want to upload it because "it is good"/ "you like it", not "you want a compliment from others". Let's change our mindset, and live better with positive mind.

My Depression Story

(This is in Full Bahasa and Full English)                                 Setelah momen graduation, aku mengalami depresi yang aga...